Friday, March 16, 2012

Perfection :)


I'M BACK !
AWKWARD LOVE STORY..
ENJOY !! 
(OK,WEIRD TITLE)


Perfection

Ballroom Enchante’, Hyona mempersiapkan dirinya untuk segera memasukinya. Ruangan terbesar ketiga yang ada di kampusnya, tentu saja setelah Hall utama dan ruang pertunjukan. Jantungnya berdegup sangat kencang, lepas kendali. Hari ini adalah hari yang paling menentukan dalam sejarah dia berkuliah disini, Seoul Music University, universitas musik nomor satu di Korea, hari ujian akhirnya. Dia yakin dia pasti lulus dengan nilai bagus, tapi tetap saja dia merasa sangat gugup. Tentu saja dia gugup, ujiannya kali ini adalah ujian terbuka. Mahasiswa-mahasiswa lain diizinkan untuk datang selama kursi-kursi yang ada di ballroom itu belum terisi penuh. Hal krusial lainnya adalah, hari ini ujian akhirnya akan disaksikan oleh Anthony Fraensor, seorang guru besar dari The University of Music and Performing Art di Vienna.

Hyona mengambil nafas panjang, mengangkat sedikit gaun magentanya, dan perlahan memasuki ballroom dengan senyum termanis yang bisa dia buat. Tepukan tangan sangat meriah bergema di langit-langit. Hyona terkejut, dia tidak menyangka yang menyaksikan ujian akhirnya akan sebanyak ini, tapi dia tetap tersenyum manis. Tak lama dia pun tiba tepat di tengah ballroom, dimana pianonya sudah menunggu sedari tadi, tidak sabar untuk dimainkan. Dia menurunkan kembali gaunnya dengan anggun kemudian menunduk kepada semua orang yang ada di ballroom. Dia bisa melihat kedua orangtuanya di tengah para penonton, juga kakak laki-lakinya, Cho Kyuhyun, yang melambaikan tangannya sambil tersenyum tulus. Hyona balas tersenyum sambil mengangguk kecil. Tidak jauh dari Kyuhyun, dia bisa melihat Jaena, sahabatnya sejak SMA, dia berdiri bersama kekasihnya, Kim YoungJoo. Hyona bisa melihat Jaena mengusap matanya, mungkin menahan haru, sesekali mulutnya seperti mengucapkan “ neo neomu yeoppo Hyona-ya, jinja ippo “, Hyona bisa membaca gerakan bibirnya walau tak sanggup mendengarnya.

Teman-teman satu kelasnya pun ikut menyaksikan di barisan paling belakang, membawa tulisan tulisan yang menguatkannya seperti “ HYONA IS THE BEST “ atau yang konyol seperti “ BANTAI DIA !! “, Hyona tersenyum tipis, tentu saja DIA yang mereka maksud adalah Lee Wonhee, dosen kejam yang omongannya selalu tajam dan menyakiti, yang hari ini menjadi anggota tim penilai kelulusan Hyona.

Yang membuat Hyona sangat terkejut adalah kedatangan keluarga Kim, Jaehyun ajussi dan Yejin eomonim, juga Kara dan Jonghyun. Seharusnya mereka tidak perlu datang, mengingat Jonghyun yang saat ini sedang menempuh studinya di Paris juga Kara yang sedang sibuk mengurus beasiswanya di Jerman. Kara dan Jonghyun melambai-lambai dengan hebohnya. Hyona merasa matanya panas, dia sangat terharu, 2 orang konyol itu kenap` masih sempat menyempatkan diri datang ke ujian akhirnya? Hyona merasa sempurna pagi itu, disaksikan oleh semua orang yang penting dan menyayanginya.

Kecuali dia.

Seseorang yang tidak mungkin datang kesini sekarang.

Hyona menarik nafas panjang, seorang berpakaian rapi menghampirinya dan memberikan mikrophon. Sebelum memulai memainkan piano, Hyona memang diharapkan untuk memberikan sambutan dan menjelaskan apa-apa saja yang akan dia mainkan.
Ballroom seketika hening. Hyona memulai pidatonya.

“ Selamat pagi semua. Suatu kehormatan tersendiri bagi saya, seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja, pada hari ujian akhirnya dihadiri oleh Rektor universitas tercinta ini, terima kasih untuk Lee Taehwan-ssi yang sudah berkenan hadir disini “ Hyona menunduk kearah pria berjas merah maroon, pemimpin Seoul Music University itu, Lee Taehwan, yang sekarang tersenyum lebar.

“ Kepada tim penilai, saya harap bisa menilai dengan adil, penuh dengan keobjektivitasan, dan semoga bisa menikmati permainan piano saya..”

“ Kepada semua yang sudah datang disini untuk mendukung saya, Eomma, Appa, Kyu oppa, Kamsahamnida .. “ Hyona berhenti sejenak, keluarganya itu mengangguk kearahnya. Hyona kembali melanjutkan.

“ Jaena-ya, gomawoyoo kau sudah mau datang, juga teman-teman ..“ Hyona melambaikan tangannya kearah teman-temannya. Jaena sekarang sudah benar-benar menangis.

“ Dan terakhir, untuk keluarga Kim, eomonim,ajussi... Kara-ya, Jonghyun oppa, aku sangat menghargai kedatangan kalian disini, aku tidak akan mengecewakan kalian .. “ Kara dan Jonghyun terkejut, tidak menyangka nama mereka akan disebutkan dalam pidato singkat Hyona, kini semua mata tertuju pada keluarga Kim, membuat mereka salah tingkah.

“ Hari ini saya akan memainkan 5 lagu, 2 diantaranya adalah karya Rachmaninoff, satu dari Mozart dan Chopin, dan satu lagu adalah karya saya sendiri ..“ ruangan menjadi ribut dengan bisik-bisik.

“ Tidak,bukan hanya karya saya sendiri, ini adalah hasil duet saya dengan seseorang yang sangat spesial,tapi dia tidak bisa datang sekarang, semoga kalian bisa menikmatinya nanti.. Terima kasih “ Hyona mengakhiri pidatonya dan menunduk sopan. Tepukan tangan mengiringi Hyona menuju pianonya. Dia duduk perlahan,ruangan kembali hening, menunggu Hyona memainkan jari-jarinya lincah di atas tuts tuts piano itu. Dia memejamkan matanya untuk berdoa sejenak.

Jika kau gugup cukup sebut namaku, 2 kali saja ya, jangan terlalu banyak, hahahaha.
Kiseoppiie .. Kiseoppiie .. Tepat 2 kali, Hyona menyebutkan nama itu. Nama yang sangat dia rindukan.

Bermain piano sendirian itu menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi jika kita bermain bersama orang yang kita sayang,bukan? Maka,setiap akan bermain piano bayangkanlah aku dan aku akan ikut bermain bersamamu.

Hyona membuka matanya perlahan. Dia bisa melihat Kiseop duduk disampingnya. Tertawa dengan mata lebarnya yang selalu Hyona  suka. Hyona bisa merasakan airmata mengalir dari kedua matanya. Dia bahagia. Satu hal yang paling dia inginkan adalah bermain bersama Kiseop di hari terpentingnya itu, dan lihatlah, Kiseop ada disini, duduk bersamanya, tersenyum, menunggu Hyona memulai permainan pianonya. Hyona memberikan anggukan kecil ke arah Kiseop, kode untuk mulai bermain. Dan nada-nada indah itu tercipta, menelisik masuk ke dalam gendang telinga setiap orang yang ada di ruangan itu, meresap hingga melelehkan hati yang mendengarnya, seolah olah ballroom itu bersinar terang, bermandikan cahaya dari melodi sempurna yang mengalun lembut.

Hyona tidak takut. Kiseop disampingnya. Selalu.

~~~

“ SAENGIL CHUKKAEE ONNIEE !!!! ” Kara dan Jonghyun berlari kearah Hyona dan memeluknya erat. Hyona terkejut oleh pelukan brutal yang diberikan dua orang yang sudah dia anggap saudaranya sendiri itu. Setelah puas memeluk Hyona, Kara dan Jonghyun akhirnya  melepaskan pelukan mereka.

Saat ini mereka ada di salah satu ruangan di Ballroom Enchante‘ yang dijadikan ruangan untuk Hyona mempersiapkan diri sebelum tampil tadi. Semua orang sudah berkumpul disitu, orang tuanya,Kyuhyun,Keluarga Kim, Jaena dan Youngjoo,juga teman-teman sekelasnya itu. Hyona bingung menatap dinding ruangan itu yang sudah penuh oleh banner-banner bertuliskan “ SAENGIL CHUKKAE HYONA !! “ “ SELAMAT KAU SUDAH LULUS !!“ “ SEMAKIN TUA SAJA KAU HYONA, COOL, KAU SUDAH LULUS “ dan banyak tulisan aneh lainnya.

“ Jangan bilang kau lupa jika kau hari ini berulang tahun,babo “ Kyu menjentikkan jari telunjuknya tepat di dahi Hyona. Hyona mendekap mulutnya. Dia benar-benar lupa jika dia berulang tahun hari ini, dia terlalu sibuk mempersiapkan ujian akhirnya ini hingga melupakan bahwa dia telah genap berusia 22 tahun. Kyu memeluknya hangat.

“ Dasar pikun, selamat ya adikku sayang, kau lulus dengan nilai sempurna dihari ulang tahunmu ini, aku sangat bangga padamu “ Hyona membalas pelukan Kyu erat. Dia sangat menyayangi kakak laki-laki satu-satunya itu. Dia selalu melindungi dan mendukung Hyona apapun yang terjadi. Walau omongannya pedas, tapi hatinya sangatlah lembut. Itulah Cho Kyuhyun, kakak tercintanya.

“ Gomawo oppa “ Hyona melepaskan pelukannya dan ganti memeluk kedua orangtuanya. Ibunya menangis bangga.

“ Eommaa, uljimaa.. Aku tau Eomma menangis karena bangga dan senang, tapi aku tidak tahan jika melihat Eomma menangis,aku pasti nanti ikut menangis.. “ Hyona memeluk erat Ibunya yang tidak bisa berkata-kata itu, dia merasa matanya panas,dia hanya tidak bisa melihat Ibunya itu menangis. Ayahnya mengelus-elus rambutnya dengan penuh sayang.

“ Urii Hyona, maaf jika Eomma dan Appa sering tidak ada dirumah, kami sering sibuk, kami...“

“ Appaa…. Jangan begitu, Hyona mengerti, Hyona paham Appa, rasa sayang tidak bisa diukur dari waktu yang dihabiskan bersama bukan? Bukankah Appa yang sering berkata begitu? Bagi Hyona, sesibuk apapun Eomma dan Appa, kalian tetaplah orang tua paling hebat “ belum selesai Ayahnya berbicara, Hyona sudah memotongnya dan kini dia berdiri tepat di antara keduanya, menggenggam tangan keduanya dengan erat. Mereka berdua tersenyum bahagia melihat kegembiraan yang terlukis jelas di wajah putri mereka itu.

“ Naaah sekarang saaatnya tiup lilin dan selanjutnya potong kue !!!! “ Kara berteriak dengan semangat diiringi sorakan sorakan setuju dari yang lainnya.

“ Yak Kara-ya, siapa yang bilang kau boleh mengatur jalannya acara disini “ Hyona menarik rambut ekor kuda Kara. Kara meringis kesakitan.

“ Aduh Onnieeeee... sakiittt ... lagipula kalau acaranya tidak cepat dimulai nanti kuenya dimakan semuuttt“ dengan wajah polos Kara menunjuk nunjuk kue coklat super besar yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya meneteskan ludah.

“ Tidak, sampai kau dan Jonghyun oppa menjelaskan kepadaku kenapa kalian tiba-tiba ada disini..“ Hyona melirik kearah Jonghyun yang sekarang sedang pura-pura memainkan gitar kecil yang sejak tadi tergeletak terabaikan di atas sofa berwarna ungu yang ada di ruangan itu.

“ Onnieee... ceritanya panjang, setelah makan kue baru kita ceritakan ke Onnie oke? Semuanya sudah menunggu Onnie … jebaaall …“ Kara memasang puppy eyes andalannya yang dijawab dengan tragis oleh Kyu melalui jitakannya. Kyu menarik Kara menjauhi kue tersebut lantas menyalakan lilin-lilin diatasnya.

“ Bilang saja kau lapar, dasar gembul “ Kyu menyentil hidung Kara.
Hyona dan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat Kyu menyiksa dan mempermalukan Kara.

“ Nah sekarang, make a wish dan tiup lilinnya Hyona “ salah seorang teman sekelasnya memberikan instruksi. Hyona mengangguk, dia terdiam sebentar, sebelum akhirnya meniup lilin lilin itu. Semua orang bersorak dan memberikan selamat satu-persatu. Acara ulangtahun kecil-kecilan itu bertahan hingga kue coklat super besar itu habis tanpa sisa.

Hari ini benar-benar bersejarah. Tepat di hari dia berulang tahun,dia juga menyelesaikan kuliahnya, bahkan sepertinya dia tidak perlu bingung mencari tempat untuk melanjutkan studi musiknya. Anthony Fraensor sudah menawarkan satu kursi di The University of Music and Performing Art di Vienna itu, sebenarnya Hyona ingin pergi ke Conservatoire Paris mengikuti Jonghyun, tapi dia merasa kuliah di Vienna tidak ada salahnya, toh sudah ada yang dengan baik hati memberikan tawaran, mengapa kita harus menolaknya? Begitu pikir Hyona. Lagipula The University of Music and Performing Art di Vienna itu termasuk di dalam jajaran universitas musik terbaik dunia. Hyona tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menerima tawaran tersebut. Kini hanya tinggal menunggu wisuda kelulusannya sebelum akhirnya dia berangkat ke Vienna, Austria.

Ditengah kebahagiaannya hari ini, Hyona masih merasa ada yang kurang.

Kiseop.

Hyona hanya bisa menahan rindu yang sudah lama dia pendam.
Aku hanya berharap kau ada disini, Kiseoppie.Agar kebahagiaanku ini sempurna.

~~~

“ Hyona-ya, kajja, sudah mulai gelap “ Kyu menarik tangan Hyona menjauhi kampus Seoul Music University. Ayah dan Ibunya sudah pulang semenjak pesta ulang tahun tadi berakhir. Hyona meminta Kyu untuk menemaninya berkeliling kampus menemui dosen dan siapapun yang dia kenal untuk mengucapkan terima kasih dan ucapan perpisahan. Hampir seluruh penghuni kampus mengenal Hyona, karena itulah mereka baru selesai selarut ini, sudah pukul 6 sore.

Hyona memasuki mobil merah milik Kyu, setelah nyaman dengan posisi duduknya dia memasang sabuk pengaman. Mobil kecil Kyu ini selalu memberikan perasaan nyaman untuknya. Di bagian depan, terdapat 3 foto. Foto pertama adalah foto keluarga mereka yang diambil setahun yang lalu di Jeju. Setelah sekian lama, akhirnya mereka sekeluarga bisa berlibur bersama. Foto berlatar pantai yang sangat indah itu selalu menghangatkan hatinya ketika memandangnya. Foto kedua adalah foto Kyu yang sedang merangkul Hyona yang masih berseragam SMA. Ekspresi bahagia mereka berdua terlihat jelas di foto itu. Foto itu diambil saat upacara kelulusan mereka berdua, walau usia mereka terpaut 2 tahun, Kyu dan Hyona berada pada tingkat yang sama saat SMA. Kyu yang menjalani satu tahun pertukaran pelajar di China harus mengulang satu tahun masa sekolahnya saat kembali ke Korea. Karena itulah mereka lulus bersamaan. Foto ketiga sekaligus foto yang terakhir membuat Hyona tersenyum senyum sendiri. Foto seorang wanita yang sedang menatap bunga sakura yang bermekaran dengan senyum hangat dan wajah sendunya. Hyona sangat mengenal wanita itu, wanita yang selalu ada di pikiran kakak laki-lakinya yang arogan.
Kyu menyadari Hyona yang terkikik perlahan. Dia menoleh ke arah Hyona

“ Mwo? “ Kyu bertanya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.

“ Kau imut sekali Oppa, bisa bisanya memendam rasa selama bertahun-tahun tanpa mengatakan jika Oppa mencintainya ,haaah kekeke “ Hyona berusaha menyembunyikan tawanya, takut jika tangan besar Kyu akan berakhir di kepalanya. Kyu terbatuk.

“ Yak ! Neo jinjaa.. aigooo ... Aku ini menunggu saat yang tepat Hyona-ya, aku merasa sekarang dia masih belum bisa lepas dari masa lalunya, lelaki itu ... “ tiba-tiba wajah Kyu berubah menjadi muram. Kabut perlahan terlihat di matanya. Hyona menepuk pundak Kyu lembut.

“ Oppa... Mianhae, aku salah. “

“ Eee? Aneh sekali kau Hyona .. “ Kyu menggaruk dahinya asal.

“ Maksud aku, aku salah menyuruh Oppa untuk mengatakan cinta kepada dia.. “ Hyona diam sejenak, Kyu juga diam, menanti Hyona melanjutkan kata-katanya. Hanya terdengar deru mesin mobil dan klakson klakson tidak sabar dari beberapa penghuni jalan yang terburu-buru untuk sampai ke tempat tujuan.

“ Aku yakin Oppa, dia pasti tau jika Oppa mencintainya dengan tulus.. Segala perhatian yang oppa berikan kepadanya … terkadang tidak perlu kata-kata untuk menunjukkan cinta kita. Bahkan aku yakin Oppa, dia sekarang sudah melupakan masa lalunya itu. Sepenuhnya. Lihat, sejak kapan dia bisa tersenyum semanis ini? Hanya saat bersama Oppa,kan? Tidaaak bukan - jangan membantah! sakura itu hanya pelengkap, dia bahagia karena dia bisa menyaksikan keindahan itu bersama Oppa.. “ Hyona menandaskan kalimatnya, bahkan tidak memberikan Kyu kesempatan untuk menginterupsi kata-katanya.

“ Aku yakin Oppa, tanpa Oppa lamar pun, nantinya dia pasti menikah dengan Oppa , AUW ! “ kali ini tangan Kyu tidak ragu mendarat di kepala Hyona. Hyona meringis mengelus-elus bagian atas kepalanya. Kyu memang terkenal ‘ringan tangan’ . Wajah Kyu merah padam, perpaduan antara malu dan kesal.

“ Cho Hyona my princess, sejak kapan kau berani bicara yang tidak-tidak .. kan tadi aku sudah bilang jika ..”

“ Dia belum siap? Masih memikirkan masa lalunya? Oppaaaaaaaa, Oppa hanya mencari-cari alasan, mungkin bukan dia yang tidak bisa bangkit, tapi Oppa.. Oppa, semua orang memiliki masa lalu bukan? Tapi, kita hidup bukan untuk masa lalu Oppa, kita hidup untuk masa yang akan datang. Kalaupun memang dia masih memikirkan masa lalunya, pasti dia bersyukur karena di masa sekarang dia memiliki seseorang yang lebih hebat daripada yang lalu, yaitu kau,Oppa. Titik. Aku tidak mau lagi mendengar rengekan-rengekan tidak masuk akal darimu Oppa, itu hanya ketakutanmu belaka. “ Hyona menepuk lengan Kyu. Kyu hanya bisa diam. Hyona memang benar. Selama ini dialah yang terlalu khawatir akan masa lalu wanita yang dia sayangi itu,padahal sedikitpun tak pernah dia mengungkit tentang masa lalunya, terlebih 2 tahun belakangan ini. Kyu tersenyum dan mengacak acak rambut Hyona.

“ Entah kenapa semuanya terasa ringan jika kau yang menasehatiku Hyona-ya, gomawoyo.. Iya kau benar, sepertinya akulah yang terlalu takut, aku terlalu pengecut .. Aku akan coba berfikir positif mulai saat ini..” Kyu mengacungkan jempolnya kearah Hyona dan tersenyum, senyuman yang selalu terlihat licik itu.

“ Assaaa … Good good, yak, menyetir yang benar Oppa ! ” Hyona tersentak, hampir saja Kyu menyerempet mobil BMW berwarna hitam di sampingnya karena terlalu sering menoleh kearah Hyona.

“ haha, itu tadi lumayan , olahraga jantung ! ” Kyu terkekeh. Hyona manyun.
Sisa perjalanan pulang mereka habiskan dengan ngobrol tanpa henti. Hingga akhirnya mata Hyona tertumbuk pada tempat itu. Hyona tidak menyangka mereka akan melewati tempat itu. Tempat yang memiliki banyak arti baginya …… dan Kiseop. Hyona membuka kaca jendela mobilnya, memandangi tempat itu dengan tatapan rindu. Mereka sekarang sedang terjebak macet di salah satu lampu lintas yang memiliki lampu merah dengan hitungan detik yang sangat lama. Kyu menyadari keanehan sikap adik semata wayangnya itu.

“  Wae geurae? ” Kyu ikut menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang dilihat oleh Hyona. Dan ide itu terlintas begitu saja di kepala Hyona. Hyona membalikkan badannya untuk menatap Kyu. Kyu terkejut dengan gerakan tiba-tiba Hyona.

“ Oppa ! Hari ini hari yang sangat special bagiku, kau tahu kan? ” Hyona menatap mata Kyu dengan sungguh-sungguh. Kyu mengangguk ragu. Lampu hijau. Mobil mereka jalan, namun kembali harus bersua dengan lampu merah yang tiba-tiba menyala. Ratusan detik,lagi.

“ Oppa, biarkan hari ini menjadi lebih spesial dengan mengizinkanku pergi ketempat itu, sendiri.. Itu tempat yang memiliki banyak kenangan untukku, ne? Oppa.. jebaaal .. “ Hyona mengayun-ayunkan tangan Kyu manja. Melihat adiknya seperti itu, tentu bukan hal yang mudah untuknya. Kembali, Kyu menggangguk ragu, namun terlihat mantap di mata Hyona.

“ Oke, tunggu hingga lampu hijaunya menyala dan aku akan parkir disana, dan kau bisa per .. Hyona !! “ tanpa menunggu instruksi panjang lebar dari Kyu, Hyona sudah keluar dari mobil, di tengah kemacetan dia berlari menuju taman itu, yang memang tidak terlalu jauh, dengan wajah bahagia, Kyu terlambat mencegahnya. Beberapa pengguna jalan memasang wajah terkejut dan heran, beberapa berbisik bisik sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Lagi, Kyu hanya bisa tersenyum. Kali ini dia membiarkan adiknya itu melakukan apa yang dia inginkan. Tidak ada yang bisa membuat Hyona senekat itu kecuali orang itu. Tidak ada yang bisa membuat Hyona menjadi sangat lupa diri kecuali hal-hal yang berhubungan dengan orang itu.

“ Kiseop-ya, dimana kau? Lihatlah, kau sudah membuat adik kesayanganku gila .. “
Lampu hijau akhirnya menyala, Kyu menjalankan mobilnya perlahan dengan senyum itu, senyum khasnya – yang licik. Selalu terlihat licik.

~~~

Hyona yaaaaa, bogoshipdaaa.. Hari ini ujian akhirmu kan? Semangaat ! *kyaaaaaaaaaaa kyaaaaaaaaa kyaaaaaaaaaaaaaa* wah, anak anak sangat ribut, aku sudah harus pergi, teruslah semangat *Kisoppppooo saaaan* iyaaa iyaa aku datang.. Aku harus segera pergi Hyoooo, annyeong, saranghaaee !

Hyona kembali melihat video message dari Kiseop pagi tadi.

Rambut coklatnya yang selalu terlihat agak berantakan, mata besarnya, hidung panjangnya, bibirnya yang selalu terlihat merah, wajahnya yang selalu tampak sempurna di mata Hyona. Walau dengan bintik bintik merah yang dengan nakalnya muncul di pipinya jika dia kedinginan. Walau dengan jerawat di dahinya yang sering muncul jika dia flu. Walau dengan luka luka di dagunya jika dia tidak hati hati saat bercukur.

Hyona menyukai semua hal tentang Kiseop. Wajahnya. Cara berpikirnya. Sifatnya yang kekanak-kanakan. Kebodohannya. Kemampuannya bermain piano yang luar biasa. Suara fals nya saat bernyanyi. Semuanya,bahkan sifat pelupanya. Untuk yang satu ini mereka seri, mereka berdua sama-sama pelupa.

Bahkan Hyona lupa jika Kiseop lupa mengucapkan selamat ulang tahun untuk dia hari ini.

Kiseop melupakan hari ulang tahunnya. Sesibuk apakah dia disana? Apakah pekerjaannya di Jepang sebegitu menyita waktu dan pikirannya?

Setelah lulus SMA, Kiseop pergi ke Jepang untuk membantu usaha les piano milik pamannya. Awalnya Pamannya hanya mencoba berbisnis kecil-kecilan dan iseng mengajak Kiseop untuk berbisnis bersama. Tahun pertama hanya ada beberapa anak yang ikut, setelah kedatangan Kiseop, yang merupakan lulusan terbaik di kelas piano saat SMA, murid-murid mulai bertambah. Tempat les piano yang bernama “ La Petit “ itu akhirnya berkembang semakin besar dan menjadi salah satu tempal les yang harus diwaspadai oleh para pesaing bisnis les piano lainnya.

La Petit sekarang sudah memiliki 3 kantor besar yang tersebar di Tokyo. Kiseop tinggal di Yokohama, salah satu kota besar dan terkenal di Jepang yang terletak tidak jauh dari Tokyo, sekaligus mengurus kantor pusat La Petit mereka. Sudah hampir 4 tahun dia dan pamannya menjalankan bisnis tersebut, selama itu pula Kiseop dan Hyona tidak bertemu.

3 tahun 5 bulan 28 hari bukanlah waktu yang singkat.

Sering Hyona ingin pergi menemui Kiseop saat libur kuliah, namun Kiseop tidak pernah mengizinkannya. Hyona masih mengingat dengan jelas saat itu,pertama kalinya Kiseop melarangnya pergi ke Jepang.

“ Hyo, jika kau punya waktu luang, mengapa tidak kau gunakan untuk berlatih? Kau sendiri yang sering bilang padaku jika permainan piano-mu masih sering salah,ah, apa itu yang belum kau kuasai, Rachmaninoff atau Beethoven? Symphony no.. emm 7? 8?.. “ terdengar suara lembut dan kekanakan milik Kiseop dari telepon genggam berwarna putih di genggaman Hyona.

“ Tapi .. Aku .. Aku ingin bertemu Seop-ah.. Nan jeongmal geuriwoseo .. Bogoshipda .. “ Hyona berkata lemah, menahan airmatanya agar tidak keluar.

“ Yaak Yaak Yaak, Hyo.. Aku juga merindukanmu disini, tapi, bukankah kita punya mimpi yang harus diwujudkan? Fokuslah pada mimpi itu, kejarlah mimpi itu, selesaikanlah segala masalah yang menghalanginya.. Aku tau, aku tau betapa rasa rindu itu meluap-luap, memaksa untuk segera dikeluarkan,dilampiaskan, tapi tidak sekarang Hyo, ada waktunya.. “ Kiseop menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan.

“ Aku merindukanmu Hyo, teramat sangat, tapi aku takut jika aku menemuimu sekarang, itu akan melemahkanku, membuatku semakin tersiksa, membuatku.. membuatku membenci keadaan yang mengharuskan kita untuk terpisah.. “ Hening sejenak. Kiseop bisa mendengar isak tertahan Hyona, Kiseop memejamkan matanya, memberikan waktu sejenak kepada Hyona dan dirinya untuk meredakan kepiluan yang sama-sama mereka rasakan.

“ Kau tau Hyo, kita harus kuat, kita tidak boleh kalah pada perasaan ini. Jalanilah harimu disana seperti biasa Hyo, saat dulu kita masih bersama, rasa rindu ini bukanlah rasa yang spesial kan? Semua orang pernah merasakannya. Kaulah yang spesial Hyo, kaulah yang membuat perasaan ini menjadi spesial. “
Hyona terisak pelan. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Kiseop benar-benar membuatnya merasa dicintai. Merasa berharga, merasa spesial.

“ nah Hyo, masih banyak kan yang harus kau lakukan selain menemuiku? “ Kiseop melanjutkan tenang.

“ hem “ Hyona mengangguk sembari mengusap airmatanya tanpa menyadari bahwa Kiseop tak mungkin melihat anggukannya.

“ hem? Apa? “ kening Kiseop berkerut, bingung akan jawaban yang diberikan Hyona.

“ Eh? Iyaa iya Kuma-chan, hihi .. emm, sembari menunggu saat itu, biarkan aku mengasah kemampuan pianoku lebih dalam lagi, hingga akhirnya aku bisa melampaui permainanmu ..“ Hyona tersenyum.

“ Ettooo, jangan harap Hyo, jangan harap.. Hmm,jika kau ingin menjadi seperti aku, syaratnya adalah tidak boleh merengek,tidak boleh mengeluh,tidak boleh manja,tidak boleh depresi jika membuat kesalahan. Itu kan hal-hal yang mustahil bagi Cho Hyona yang tukang merengek, apalagi kepadaku .. “ Hyona terbelalak tidak percaya.

“ Yak Lee Kiseop ! Neo jinjja.. ” terdengar suara Kiseop yang tertawa puas di seberang sana. Walau kesal Hyona ikut tertawa bersama Kiseop.

“ Berjanjilah kau akan terus menjalani hari dengan semangat disana Hyo,walau aku jauh... “ Kiseop kembali serius.

“ Siapa bilang kau jauh? Kau disini Seop, disini ...“ Hyona perlahan menepuk-nepuk dadanya, seolah mengatakan kepada Kiseop jika dia akan selalu ada didalam hati Hyona. Kali ini Kiseop yang dibuat tersipu malu oleh kata-kata Hyona. Hening kembali mengambil alih pembicaraan antar negara itu, bahkan Kiseop bisa mendengar rintik-rintik hujan yang daritadi menemani Hyona dari balik jendela kamarnya, hingga akhirnya Hyona memecah keheningan,

“ Ah, aku baru ingat, aku sedang mencoba menguasai Schubert’s Sonata dan Chopin Etude, Seoppie, bukan Rachmaninnoff atau Beethoven, babo ...“

Sejak saat itu, tak pernah lagi Hyona membahas ingin bertemu dengan Kiseop, terlebih mereka semakin sibuk dengan kegiatan masing-masing. Telepon juga menjadi lebih jarang, hanya saat salah satu dari mereka berulang tahun mereka berinteraksi lebih lama dari biasanya.

Hyona duduk di pinggir sungai yang ada di taman kecil itu. Taman ini tidaklah besar, hanya terdapat sungai kecil dengan batu-batu ditengahnya dan beberapa ayunan yang sudah mulai pudar catnya. Matahari sudah tenggelam sejak 15 menit yang lalu, lampu-lampu taman mulai dinyalakan. Hyona membiarkan kedua kakinya tenggelam di dalam air sungai yang mengalir perlahan, dingin, namun menenangkan.

Taman kecil itu tidak memiliki nama. Toh, jika memiliki nama pun, tidak akan banyak orang yang tahu. Hyona pun awalnya terkejut saat Kiseop mengajaknya ke taman ini, dia tidak menyangka akan menemukan sungai sejernih sungai itu di Seoul. 

Hyona sangat senang bermain di sungai itu, merendam kakinya, memungut daun-daun yang ikut mengalir seiring aliran airnya, menunggu ikan-ikan kecil lewat, walau Kiseop sering meneriakinya “ Air sungai itu tidak sebersih kelihatannya Hyo !! “ dia tidak pernah peduli. Dia akan terus lanjut bermain di sungai itu hingga Kiseop menariknya dan membantunya mencuci kaki dan tangannya di keran air di tengah taman sambil mengomel “ Kau ini, jika ini di desa kau bisa bermain air itu sepuasnya, tapi ini Seoul, Hyo .Polusi dimana-mana. Air itu bersih tapi mungkin mengandung racun “ . Jika sudah begitu Hyona hanya bisa memajukan bibirnya dan memercikkan air keran ke arah Kiseop sebal. Lalu Kiseop akan memandangnya dengan tatapan mengancam dan berkata “ Kau mau nanti kakimu gatal-gatal dan kau tidak akan bisa tidur semalaman karena harus menahan rasa gatal yang tak terkira, lalu lama kelamaan kulitmu berubah merah dan bersisik seperti ikan, kau mau ha? Kalau kau mau jadi manusia ikan mainlah sana sepuasnya. “  Bukannya takut, Hyona pasti tertawa terpingkal-pingkal jika Kiseop sudah mulai ngomel tidak karuan seperti itu. Begitulah Kiseop-nya, selalu memiliki jalan pemikiran yang aneh dan tidak masuk akal,terutama untuk hal-hal yang sepele.

Hyona tersenyum mengingatnya. Sekarang tidak akan ada yang memarahinya walau dia merendam kakinya selama yang dia mau. Dia kembali mengecek hand phone-nya berharap Kiseop mengirim pesan atau e-mail kepadanya, nihil. Ada lebih dari 10 pesan di kotak masuknya,namun semua dari teman-teman kuliahnya. Tau jika Kiseop tidak mengiriminya pesan, dengan hati-hati dia masukkan hand phone putih miliknya itu kedalam tas.

“ Dia mungkin benar-benar sibuk,tadi pagi saja terlihat sangat buru-buru ..” Hyona berkata kepada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hatinya. Dia mulai kedinginan, diangkatnya kedua kakinya dari dalam sungai, mengeringkannya dengan tisu dan kembali memasang sepatunya. Tiba-tiba lampu-lampu kecil yang ada di pohon di seberangnya menyala. Hyona melihat kearah sekitar taman, tidak hanya pohon tersebut, namun semua pohon yang ada di sana bersinar terang karena lampu hias tersebut. Hyona tertawa senang, keindahan taman itu memang terlihat saat malam hari. Beberapa orang berdatangan ke taman tersebut, duduk-duduk menikmati malam di kursi taman sambil menikmati sekotak kue.

Hyona masih bertahan duduk di pinggir sungai, memeluk kedua lututnya.

“ Aku sudah lulus Seop-ah, “ Hyona berbisik pelan, mungkin kepada angin yang baru saja lewat menerpa rambut-rambut lembutnya.

“ Aku sudah menyelesaikan setengah jalan menuju mimpiku, bahkan aku akan melanjutkan belajar ke Vienna. Masih berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa bertemu denganmu? Apakah menunggu hingga aku lulus dari Vienna? “ memikirkan kemungkinan bahwa dia tidak akan bertemu Kiseop hingga selesai studi-nya di Vienna membuatnya terisak.

“ Aku hanya ingin mendengar suaramu sekarang Seop-ah, sekedar ‘Hai‘ pun tidak apa-apa, kenapa kau begitu jahat membuatku menunggu dalam ketidakpastian? ..“ sekarang dia sudah sempurna menangis. Airmatanya jatuh keatas kedua tangannya. Dia mendekap lututnya semakin erat.

“ Kenapa kau bahkan lupa mengucapkan selamat ulang tahun unt... khhh “
Dan waktu seperti terhenti. Membeku. Menyadari apa yang tengah dialaminya sekarang membuat airmata Hyona mengalir semakin deras. Jantungnya berdegup tak terkendali.
Seseorang memeluknya dari belakang bahkan sebelum dia menyelesaikan monolog depresinya.

“ Saengil Chukkae, Hyo ... “ suara itu, suara lembut kekanak-kanakan, suara yang selalu ingin dia dengar, suara yang selalu bisa menenangkannya, suara dari orang yang selalu ingin dia kalahkan permainan pianonya. Hyona tidak bergerak, dia tidak percaya atas apa yang dia dengar dan alami sekarang. Tangan besar yang sekarang memeluknya itu, wangi parfum yang menelisik masuk kedalam hidungnya, Hyona yakin, dia tidak salah, tidak akan pernah salah.

“ Mianhae membuatmu menunggu terlalu lama Hyo, mianhae .. “ lagi, suara itu, Hyona semakin terisak.

“ Kumaaaa ….” Hyona berusaha menahan semua emosi yang dia rasa saat ini, sia sia, airmatanya semakin deras mengalir dari kedua matanya. Perlahan kedua tangan besar itu melepaskan pelukan eratnya ke Hyona dan membantu Hyona berdiri. Hyona membalikkan badan dan bisa melihat Kiseop berdiri di hadapannya dengan pakaian lengkap. Kiseop tampak sempurna dengan kemeja warna abu-abu yang pas dibadannya.

Hyona meraba pipi kiri Kiseop seakan masih tidak percaya Kiseop sekarang benar-benar berdiri di hadapannya. Tersenyum dengan indahnya, senyum lebar khas miliknya itu.

“ Kiseopie? ” suara Hyona terdengar bergetar. Kiseop mengangguk mantap.

“ Ye Hyo, ini aku Kiseop, Lee Kiseop, Kuma-mu, lupakah kau? “ Kiseop meraih tangan Hyona yang sedari tadi meraba pipinya, lantas menggenggamnya erat.

Yakin jika lelaki didepannya benar-benar Kiseop, Hyona memeluknya erat, membasahi kemeja Kiseop dengan airmatanya yang mengalir sejak tadi. Mereka berdua berpelukan dalam heningnya malam, hanya terdengar gemericik air sungai dan suara tangisan Hyona yang semakin keras. Kiseop memeluknya semakin erat, semakin erat Kiseop memeluknya, semakin keras pula-lah tangisan Hyona. Kiseop tersenyum, Hyona-nya tidak berubah, masih cengeng seperti dulu.

3 tahun 5 bulan 28 hari.
Sudah cukup penantian itu, akhirnya mereka kembali bertemu.

Hyona melepaskan pelukannya. Bagian depan kemeja Kiseop sempurna basah oleh airmata Hyona. Kiseop tidak protes, dia menghapus sisa sisa airmata di pipi Hyona. Hyona hanya diam dan memandangi wajah tampan Kiseop.

“ Sudah puas,eh? ” Kiseop membuka percakapan. Hyona memberinya tatapan “ APA? “ . Kiseop tertawa melihat reaksi Hyona dan mengelus kepalanya pelan.

“ Kyeoptaa Hyona-ya …” sekarang Kiseop sudah mencubiti kedua pipi Hyona.

“ Tidak ada yang lucu Seoppie ! Sekarang jelaskan kenapa kau bisa berada disini, tidak, aku mau dengar sekarang ! “ Hyona yang merasa dipermainkan oleh Kiseop memukul dada Kiseop pelan. Dia tidak ingin Kiseop menunda-nunda waktu untuk menceritakan kepulangannya, Hyona ingin mendengar cerita itu saat ini juga.
Kiseop merengkuh Hyona ke dalam pelukannya. Hyona terkejut sembari tersenyum malu.

“ Yak, aku mau mendengar ceritamu, kenapa kau .. “

“ Shhhh, aku mau bercerita sekarang, tapi karena ceritanya panjang,biarkan kita seperti ini, aku takut nanti ketika ceritaku berakhir aku tidak akan sempat memelukmu seperti ini lagi Hyo .. “ Kiseop tersenyum lembut, Hyona bisa merasakan detak teratur dari jantung Kiseop, membuat wajahnya bersemu merah.

“ Sekarang, dengarkan baik-baik my Hyo, dan jangan memotong atau menyela karena aku tidak akan mengulang semua yang kukatakan, arachi?“ Hyona menggangguk pelan.

“ Aku sudah berencana pulang sejak 3 hari yang lalu, tapi mengingat kau berulang tahun dan ujian hari ini maka aku memutuskan pulang ke Korea hari ini. Kau dengar kan anak-anak ribut saat aku mengirim video tadi pagi? “ Hyona hanya ber-hhm pelan, Kiseop kembali melanjutkan.

“ Mereka ribut karena khawatir aku ketinggalan pesawat, aku tadi bangun kesiangan. Kau tau anak-anak itu datang untuk menitipkan hadiah untukmu, padahal hari itu tidak ada kelas piano,-- ya, aku memberi tahu mereka jika wanita terpenting kedua dalam hidupku berulang tahun hari ini .. dan jangan memotong“ Kiseop masih memeluk Hyona erat.

“ Setelah itu aku berangkat dan untunglah aku masih keburu naik pesawat itu, walau memang aku jadi penumpang terakhir yang masuk . Sebenarnya aku ingin membuat kejutan dengan datang ke ujian akhirmu, namun halmoni yang duduk disampingku selama di pesawat tadi mengalami serangan jantung mendadak sesaat setelah turun dari pesawat, dan anak-anaknya dari Anyang belum sampai di bandara untuk menjemputnya, jadilah aku yang mengantarkan halmoni ke rumah sakit terdekat dan menunggu hingga anak-anaknya datang. Syukurlah halmoni itu baik-baik saja hingga sekarang, ah, dan nama halmoni itu Park Sunhwa, awww “ Kiseop merasakan cubitan Hyona di pinggangnya.

“ Lalu pentingkah jika aku tau nama halmoni itu Seoppie ! “ Hyona mendongak dan memberikan tatapan marah kepada Kiseop. Kiseop menyeringai

“ Yak Cho Hyona, halmoni itu sangat baik dan bukankah aku bilang jangan memotong ! “ Kiseop menjitak kepala Hyona pelan.

“ Baru pukul 4 sore aku bisa keluar dari rumah sakit dan melanjutkan perjalanan ke Seoul. Karena tidak ada kereta jam 4 sore, aku terpaksa naik taksi dari bandara, walaupun tarifnya mahal, tapi tidak apa-apa, aku ingin segera bertemu denganmu. “ Kiseop berhenti sejenak dan mengelus kepala Hyona.

“ Namun aku lupa, permasalahannya bukan hanya tarifnya yang lebih mahal, tapi juga kemacetan ... “
Hyona terkikik geli, Kiseop memang pelupa, tidak pernah berubah, terlebih ketika sedang panik atau terburu-buru.

“ Dan kau tau, ketika sedang terjebak macet, aku melihat seorang gadis berlari keluar dari mobil berwarna merah, nekat sekali dia batinku, tapi .. aku merasa sangat mengenal gadis itu, dan akhirnya aku melihat ke arah mobil berwarna merah yang dia tinggalkan, ah, akhirnya aku ingat, mobil itu milik seseorang bernama Cho Kyuhyun,jika aku tidak salah.. Dan dengan bodohnya aku mengejar gadis itu,karena aku yakin dia adalah adik dari Cho Kyuhyun tadi .. awwww,yak Cho Hyona, kau ini.. “ Kiseop mengelus dadanya yang terasa perih. Kali ini Hyona sudah tidak memeluknya lagi dan menghadiahkan sebuah pukulan tepat di dada Kiseop. Hyona memandangi Kiseop dengan wajah tidak percaya.

“ Mwoya? Cukup cukup, aku tidak mau mendengar ceritamu lagi, sekarang sudah jelas kenapa kau ada disini Kiseop-ah, eee.. kau selalu begitu, bercerita dengan kata-kata aneh yang membuat orang malu dan malas mendengarnya .. “ Hyona berkacak pinggang. Kiseop menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan memajukan bibirnya.

“ Mian,aku memang tidak pandai berkata-kata, emm, tapi aku sejak tadi berdiri disana Hyo .. “ Kiseop menunjuk bagian tengah taman itu. Hyona memandangnya bingung.

“ Tapi, aku tidak berani untuk menghampirimu, aku takut aku akan menangis jika aku akhirnya bisa menemui setelah selama ini Hyo, haaaaahh.. bahkan saat kau memasukkan kakimu ke air sungai kotor itu aku tidak bisa bergeming, aku tidak bisa menghampirimu untuk memarahimu,. Aku terlalu takut, Hyo.. Tapi seiring dengan menyalanya lampu-lampu hias itu aku akhirnya tersadar, aku harus datang kepadamu, untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu, dan selamat ulang tahun ... Aku belum mengucapkannya kan tadi pagi..  “ Kiseop memberikan Hyona senyuman paling tulus yang pernah dia buat. Hyona memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca, meraih tangan Kiseop ke dalam genggamannya.

“ Tak perlu diucapkan Seoppie, aku sudah bisa merasakannya, aku juga merindukanmu ... “ Hyona membalas senyuman Kiseop dengan senyum yang mungkin tak bisa disebut tulus, tapi dia tersenyum dengan bahagia, sangat bahagia.

Mereka menghabiskan malam dengan diam. Duduk di bangku panjang yang ada di tepian sungai. Mendengar gemericik air sungai yang dipadu dengan suara lembut angin yang berhembus. Hyona menyandarkan kepalanya di bahu Kiseop. Dalam diam pun, Hyona bisa merasakan betapa indahnya saat ini. Hari ini benar-benar hari sempurnanya. Dia tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk membuatnya bahagia, semua ini sudah lebih dari cukup.

“ Kajja ... “ Kiseop tiba-tiba membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk beranjak pergi. Hyona menegakkan kepalanya bingung, tangannya masih menggenggam erat tangan Kiseop.

“ Eh? Kemana? “ Hyona yang masih ingin menikmati malam bersama Kiseop berkata dengan suara ragu. Kiseop tersenyum. Senyum yang tidak pernah dilihat Hyona sebelumnya. Hyona semakin bingung.

“ Kerumahmu tentu saja .. “ Kiseop berkata tenang, sekarang dia sudah berjalan dengan semangatnya dan mengayun-ayunkan tangan Hyona. Hyona sedikit berlari untuk bisa menyamai langkah besar Kiseop.

“ Tapi, Seop, aku masih ingin disini dan aku masih belum mau pulang eeerr ... “

Kiseop menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, masih dengan senyum diwajahnya dia mengecup dahi Hyona. Hyona terdiam dan wajahnya berubah menjadi merah padam, tidak menyangka jika Kiseop akan melakukan hal ‘romantis‘ seperti itu di tempat umum, walau memang tak banyak orang disana.

“ Bahkan jika aku bilang aku mengajakmu pulang untuk meminta izin kepada Aboji dan Emoniem untuk menerimaku sebagai bagian dari keluarga kalian dalam ikatan yang resmi sebelum kau berangkat ke Vienna-pun, kau akan tetap menolak untuk pulang? “ Kiseop menatap mata Hyona dengan senyum misterius.

“ Eh? “ Wajah Hyona yang merah padam semakin memerah. Bahkan Hyona tidak ingat jika dia memberi tahu Kiseop tentang studi-nya ke Vienna setelah lulus. Kiseop menertawakan ekspresi wajah Hyona dan kembali berjalan menarik paksa tangan Hyona.

“ Lee Hyona, eh? Bagus juga, kekekeke... dan aku tahu tentang Vienna dari Si gembul Kara, siapa lagi?“ Kiseop tersenyum penuh kemenangan.

Demi mendengar Kiseop menyebut nama “ Lee Hyona “ wajah Hyona mungkin sudah berada dalam tingkat warna merah maksimal yang bisa dicapai oleh manusia manapun, bahkan dia merasa seluruh tubuhnya panas karena luapan perasaan bahagia yang dia rasakan.

Hari ini, 18 Februari 2012.

Hari saat dia lulus kuliah dengan nilai sempurna.

Hari saat dia berulang tahun dan merayakannya bersama orang-orang yang paling dia sayangi.

Hari saat dia menerima tawaran untuk melanjutkan studi musiknya ke The University of Music and Performing Art di Vienna.

Hari saat dia bertemu kembali dengan Kiseop-nya, lelaki yang sangat berarti bagi dia, bahkan mungkin bisa dia cintai melebihi ayah dan kakak laki-lakinya.

Dan,mungkin akan menjadi hari dimana dia mulai sibuk mempersiapkan awal hidup barunya dengan Kiseop nanti.

Hyona memandang punggung Kiseop yang terlihat kabur karena lampu-lampu jalan yang menyala dengan setengah hati,berkedap-kedip seolah kekurangan energi. Kiseop sedang sibuk memanggil taksi. Hyona tersenyum bahagia, bahkan memandang punggungnya saja sudah bisa membuatnya bahagia. Kiseop menoleh, menyadari tatapan Hyona, dan tersenyum, bukan senyum misterius atau senyum aneh seperti sebelumnya. Senyuman kali ini terkesan malu-malu namun penuh dengan keyakinan dan kebahagiaan. Hyona pun ikut tersenyum. Satu taksi berhenti.

“ Kyu oppa, mianhae, aku rasa aku akan mendahului-mu ..” Hyona membatin sebelum akhirnya menyusul Kiseop masuk kedalam taksi yang membawa mereka menuju kediaman keluarga Cho. Lampu jalan yang tadi berkedip-kedip kini menyala terang, seolah ikut berbahagia bersama Hyona, hingga taksi itu tak terlihat lagi, lenyap diujung jalan, akhirnya lampu itu memadamkan dirinya, melebur bersama gelapnya malam.

FIN

Oke, 18 pages of maybe a gross story ..
hrrr...
Idk, it seems like my brain and my fingers didn't have a great teamwork ! Always, any time !
What I thought in my brain wasn't a story like this, but my fingers meanly type it ~~
Sorry, I'm still lacking much :/

But, happy late birthday for my "beautiful" older sister @hyokii1178
I hope this weird story could be a "beautiful" gift

yeeaap !!

--Kaa

No comments:

Post a Comment