Saturday, September 15, 2012

Huh? lol


I can't believe I wrote a story like this
haaaa XDDDD

“Karaa…” aku mendengar mama memanggilku. Aku yakin sekarang papa pasti sudah menungguku. Tak lama aku mendengar suara klakson mobil papa.

“Aisshh, tanda-tanda kiamat nih“ aku menggumam sendiri. Jika papa sampai membunyikan klakson mobilnya, itu berarti aku sudah benar-benar terlambat. Aku bergegas keluar kamar, namun aku melupakan hapeku,aku pun kembali untuk mengambilnya, bisa gawat kuadrat kalo sampai hapeku tertinggal.

Aku mengambil hapeku diatas meja belajarku, tapi, mataku tertumbuk pada satu amplop berwarna biru yang menyembul dari dalam laci meja belajarku. Time stops for a moment. I’m frozen

Aku mengambil amplop itu lantas membukanya,.. “TIN TIN TIIIINNN”…

“ Aigooo~~~ IYAA PAAA.. Here I goo…..” aku berlari menuju mobil Papa, tak lupa kumasukkan amplop biru tadi kedalam tasku, I’ll read it in campus of course !!

***




Akhirnya kuliah hari ini selesai juga. Aku duduk di bawah pohon di depan fakultasku. I really love this place, It gives me so much peacefulness. Ahh..Aku teringat amplop berwarna biru tadi. Aku mengaduk-aduk tas ranselku sesaat. Kutemukan amplop itu didalam buku Bahasa Jermanku.
“Fyuh..ini surat zaman kapan? Kenapa aku nggak pernah buka surat ini ya?“ aku menggumam sendiri sembari membuka amplop biru itu. Aku mengeluarkan selembar kertas didalamnya,dan,astaga, aku sangat mengenal tulisan ini. Perlahan rasa kesal pun rindu menelikung masuk ke dalam hatiku.
Aku mulai membacanya.

Lihatlah langit hari ini malaikatku..
Indah bukan, seindah itu pulalah arti dirimu bagiku..
Walau terkadang langit mendung, tapi pada akhirnya dia akan kembali biru..
Maka dari itulah, aku ingin bertanya..
Apakah alasan yang membuat seorang Kara begitu marah padaku..?
Kara sayang, aku mencintaimu,..
Walau kita terpisah jarak dan waktu..
Tak sedikitpun rasa sayangku padamu luntur..
Jangan pernah berfikir seperti itu..
Maaf, jika aku kurang memperhatikanmu..
Bukankah aku sudah memberitahukan alasannya kepadamu?
Tapi..aku maklum jika Kara tetap tidak mengerti..
Namun, apapun yang terjadi, kau tetaplah Sahabatku..

Yang menyayangimu,
Riri

Bibirku memulaskan sebuah senyuman. Astaga.... Riri, aku begitu merindukannya.
Semenjak kami sekeluarga pindah keluar kota,aku sudah lama tidak menghubunginya. Padahal,sebelum kepindahanku,aku selalu berjanji untuk terus menghubunginya. Pada awalnya sih,aku memang selalu berhubungan dengannya. Namun, karena sebuah permasalahan kecil, yang menurutku tidak pantas untuk dipdrmasalahkan,  kami berdua lost contact.

Aku, dengan segala keangkuhan dan harga diriku, enggan menghubunginya, enggan meminta maaf padanya, toh bukan aku yang salah, pikirku. Namun,seiring waktu berjalan, aku menyadari, begitu bodohnya diriku..

Hallllooo Karaa..kamu sudah dewasa sekarang,berhentilah bersikap seperti anak kecil.

Aku mengambil hapeku, mencari satu nama di kontakku yang sudah berbulan-bulan tidak kuhubungi, tidak kudengar suaranya. Ah, lagi-lagi aku tersenyum, lihatlah kuberi nama dia MY RIRI, haha, begitu aku menyayanginya.
Tanpa ragu aku memencet tombol telefon berwarna hijau,namun, belum sempat nada sambung terdengar aku segera mematikannya.

“TIDAK !!!” aku menutup kembali hapeku.
 Dia saja tidak pernah menghubungiku. Haah. Dia hanya pintar berkata-kata. Dia bilang menyayangiku,mencintaiku,haah.. Bullshit. Kembali, ego menguasai pikiranku. Aku meremas surat darinya dan karena tidak ada tempat sampah disekitar tempatku duduk,terpaksalah aku memasukkannya kedalam ranselku.

Ahh... entahlah,aku kecewa, pada Riri pun pada diriku sendiri.

Aku memejamkan kedua mataku. Angin dingin yang menimpa wajahku semakin membesarkan hasratku untuk tidur sejenak.

“ Jagoo tidur..” sebuah suara baritone yang sangat kukenal membuatku membuka kembali mataku yang telah tertutup. Omooooo~~ 

Kak Andrew...Astaga !!! Aduh, what should I do then?..

Kak Andrew.Hah, sebuah nama yang selalu bisa membuatku tersenyum.

“Hehehehe, mau nyoba juga kak? Tidur disini asik banget, sini kak ,sini “ aishh…entah dapat keberanian darimana diriku ini, hingga berani menyuruhnya duduk disampingku. 
Dia menghampiriku sambil tersenyum,aishh..aku bisa pingsan jika terus-terusan melihat senyum manisnya yang memamerkan gigi-gigi kecil putih yang tersusun rapi.

“Kara kara, sampai kapan kebiasaan tidurmu itu dipertahankan? Ah, tapi teruskanlah, kau unik Kara,aku suka“ tanpa kuduga kak Andrew menepuk-nepuk kepalaku lembut..

Astaga..mimpikah aku ?

Pangeranku ini bilang jika dia ‘suka’ kepadaku. Walaupun ini bisa dibilang biasa, tapi kata-kata Kak Andrew sukses membuatku terbang.
Hah, Kak Andrew, dialah alasanku melanjutkan kuliah di kota ini,kota yang berada tepat di tengah-tengah provinsi Jawa Timur ini, dan aku tak pernah menyangka bisa satu universitas dengannya, bahkan satu fakultas, walaupun tidak satu program studi, namun, karena aku mengikuti kegiatan Taekwondo di jampus, kami jadi dekat. Dia sudah sabuk hitam tingkat 4 sekarang. Aku yang bisa dibilang lambat dalam mempraktekkan tendangan-tendangan dalam taekwondo sering berguru dengannya, walau tidak gratis –Kak Andrew selalu memintaku mentraktir waffle kesukaannya di depan GOR latihan kami- namun,tentu saja aku bahagia. Hehe :D

Kami memang dekat, setelah dia tahu jika kami dulunya satu SMA *poor me,he just know about that lately*
Aku hanya tersenyum. Ya, berada di dekatnya memang selalu bisa membuatku tersenyum :)
Aku menoleh ke arah Kak Andrew,haha,dia memejamkan matanya sekarang, ingin kutendang rasanya,mengingat beberapa saat yang lalu dia menghinaku.

Lalu tak sengaja mataku menangkap sosok dua anak perempuan yang sedang bercanda, aku melihat apa yang dipegang oleh salah satu anak tersebut, sebuah majalah dengan cover Harry Potter terbaru. Kembali ingatanku tentang Riri bermunculan. Hahhaha,kami berdua memang Harry Potter Freak, aku jadi ingat betapa ngototnya kami membolos di jam pelajaran demi nonton Harry Potter and The Half Blood Prince di bioskop. Bahkan aku masih menyimpan PIN Harry Potter kami yang berwarna coklat itu, aku membawanya kesini, kekota ini, demi sebuah memori indah yang terangkum di PIN itu. Huwaaa.. Aku menahan airmataku agar tidak keluar, aku malu, ada Kak Andrew (>///<).

Kembali aku menoleh kearah Kak Andrew, dan tidaaaak !!! Dia memandangiku dengan tatapan aneh ! Astaga sejak kapan si manusia waffle gratisan itu membuka dua mata indahnya.

Something bad happened huh? “ dia menatapku. Aishh~~ His eyes look so pure !!

“ Engg..hehehe, nggak kok, “ aku mengalihkan pandanganku, sungguh aku tidak bisa bohong kepada malaikatku ini.

“ . . . . . “ aku bingung, kenapa Kak Andrew hanya diam. Aku menoleh padanya.

“Kok kakak diem aja sih? “ aku merengut. Dia tersenyum jahil.

“ Lah,tadi katanya nggak..yaudah, berarti nggak ada apa-apa, I believe in you little Karaaa. . . .”

“Uuuh, itu namanya nggak perhatian” entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Padahal, apa hak ku untuk kesal? Dia bukanlah siapa-siapaku.

“ Siapa juga yang nyuruh bohong..yee” Kak Andrew menjulurkan lidahnya kepadaku, aaaa, He’s so cute and sometimes he acts rather childishly. That’s why I like him. He’s so adorable.

Aku hanya mengerucutkan kedua bibirku, pura-pura ngambeek.

“Ciee, ngambek nii, OK OK, would you please tell me what problem that is bother you Karaa ? “ dia membenarkan posisi duduknya dan menatapku.

“ huuu..tau yang anak Sastra Inggris, ngomongnya Inggrrriiiiisss mulu,” sindirku. Dia hanya tersenyum lalu mengacak-acak rambutku.

I have a problem, with my lovely best friend. . . “ aku menarik nafas lalu melanjutkan,

“ Aku gak tau kak, masalah sebenarnya diantara kita itu apa, tapi aku ngerasa ada jurang yang lebar banget di antara kita, dan, dan..semua itu diperparah dengan sifat aku yang gengsian, tertutup, childish.. “

“Dan,aku benci jika harus berurusan dengannya, aku selalu merasa dia yang salah, dia yang harusnya minta maaf ke aku, tapi, dia seakan nggak punya dosa ke aku, bahkan sekarang dia sibuk dengan dunianya..aku.. aku.. aku cuma ngerasa tersisihkan Kak, ..” aku berusaha mati-matian menahan airmataku agar tidak jatuh.

“ Hanya itu ? “ Kak Andrew buka suara. Aku menatapnya dengan pandangan “berani sekali kau bilang hanya itu ?”.
Dia kembali tertawa dan mengacak rambutku, lagi. Kali ini aku cepat-cepat menyingkirkan tangan besarnya itu, untuk pertama kalinya aku merasa kesal saat dia mengacak rambutku.

“Karaa, pikirkan ini.. Ketika kamu menyebutnya sebagai “Sahabat” maka ada konsekuensi yang harus kamu tanggung.. Kamu harus bisa belajar apa itu mengerti, apa itu memahami, apa itu berbagi, apa itu memaafkan, apa itu mencintai.. Semua itu terangkum dalam persahabatan, bahkan, suatu saat kamu juga harus belajar untuk menerima dan tersakiti.. Karena seperti yang aku katakan tadi, persahabatan itu merangkum segala hal.. Tidak mudah untuk mencari seorang sahabat Kara, karena persahabatan itu suatu kata yang penuh makna, tidak hanya untuk mencintai atupun untuk bahagiaa.. Tapi juga untuk menderita, juga untuk airmata, juga untuk rasa marah, semuanya... Dan, jangan sampai kamu kehilangan sahabat hanya karena sebuah permasalahan yang akarnya tidak jelas. Dan aku yakin, dia tidak mungkin tidak memikirkanmu, hanya kau saja yang tidak tahu Kara, aku yakin itu. . .“ Aku hanya terdiam saat mendengar kata-kata Kak Andrew. Aku tidak bisa menangis, haha, semua ini terlalu bodoh untuk ditangisi. Aku tersenyum, lalu memandang Kak Andrew. Dia masih menatapku hangat.

“ Kenapa aku bisa sebodoh ini ya Kak, bodoooh…” Aku tertawa, sungguh, semua ini ternyata hanya sebuah kebodohanku belaka.
Kak Andrew menjitakku pelan .

“ Terkadang untuk menemukan suatu kebenaran memang diperlukan sebuah kebodohan Little Karaa…”

Aku kembali tertawa, semua terasa ringan sekarang.

“Berjanjilah kau akan menghubunginya secepatnya..” Kak Andrew mengingatkanku. Aku mengangguk. Samar-samar aku mendengar suara adzan. It’s Dzuhur already,I’ll call her after praying, aku tersentak, aku teringat.... Aku menoleh ke arah Kak Andrew. Rambut cepaknya sedikit tertiup angin, aku beralih kearah lehernya. Tidak..

Aku bisa melihat kalung dengan lambang salib itu tergantung di sana. Kalung yang sama semenjak SMA dulu.

Hatiku kembali berkabung...

Tak bolehkah aku sekedar mencintainya tanpa melihat kepercayaannya..

Aku berdiri, bergegas untuk pergi.

“ Kak, makasih banyak untuk semuanya, umm… Besok, aku traktir wafflenya double deh ! “ aku berusaha bersikap seceria mungkin, menutupi sedihnya hatiku.

Dia tersenyum, huaaa.. senyum yang hanya bisa kukagumi, tidak kumiliki.

Where will you go? Buru buru amat..” sambungnya.

It’s time to pray” ujarku. Dia kembali tersenyum, senyum yang semakin menyakitiku.

“ Aaa. . Oke oke… See you little Kara, thanks udah ngasi tempat tidur yang nyaman” dia merebahkan tubuhnya dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya dan berbalik pergi.

Ya Allah, maafkanlah hamba yang tidak bisa menahan semua perasaan ini. Aku pun tau kata-kata apa yang akan kuucapkan saat Riri mengangkat telefonku nantii..

RIRIIII AKU CINTA KAK ANDREEEW !!!! \(>o<)/

***END***

LOL... an old post on Facebook.
well, this is too much.. I like it tho xD
This was posted when I was still an ELF, and ELFs must have known who Andrew was, rite? lol XDDD

--Tikaa

No comments:

Post a Comment