I can't believe I wrote a story like this
haaaa XDDDD
“Karaa…” aku mendengar mama memanggilku. Aku yakin
sekarang papa pasti sudah menungguku. Tak lama aku mendengar suara klakson
mobil papa.
“Aisshh, tanda-tanda kiamat nih“ aku menggumam sendiri.
Jika papa sampai membunyikan klakson mobilnya, itu berarti aku sudah benar-benar
terlambat. Aku bergegas keluar kamar, namun aku melupakan hapeku,aku pun
kembali untuk mengambilnya, bisa gawat kuadrat kalo sampai hapeku tertinggal.
Aku mengambil hapeku diatas meja belajarku, tapi, mataku
tertumbuk pada satu amplop berwarna biru yang menyembul dari dalam laci meja
belajarku. Time stops for a moment.
I’m frozen.
Aku
mengambil amplop itu lantas membukanya,.. “TIN TIN TIIIINNN”…
“
Aigooo~~~ IYAA PAAA.. Here I goo…..”
aku berlari menuju mobil Papa, tak lupa kumasukkan amplop biru tadi kedalam
tasku, I’ll read it in campus of course
!!
***
Akhirnya kuliah hari ini selesai juga. Aku duduk di bawah
pohon di depan fakultasku. I really
love this place, It gives me so much peacefulness. Ahh..Aku teringat amplop berwarna biru tadi. Aku
mengaduk-aduk tas ranselku sesaat. Kutemukan amplop itu didalam buku Bahasa
Jermanku.
“Fyuh..ini
surat zaman kapan? Kenapa aku nggak pernah buka surat ini ya?“ aku menggumam
sendiri sembari membuka amplop biru itu. Aku
mengeluarkan selembar kertas didalamnya,dan,astaga, aku sangat mengenal tulisan
ini. Perlahan rasa kesal pun rindu menelikung masuk ke dalam hatiku.
Aku mulai membacanya.
“ Lihatlah langit
hari ini malaikatku..
Indah
bukan, seindah itu pulalah arti dirimu bagiku..
Walau
terkadang langit mendung, tapi pada akhirnya dia akan kembali biru..
Maka dari
itulah, aku ingin bertanya..
Apakah
alasan yang membuat seorang Kara begitu marah padaku..?
Kara
sayang, aku mencintaimu,..
Walau kita
terpisah jarak dan waktu..
Tak sedikitpun
rasa sayangku padamu luntur..
Jangan
pernah berfikir seperti itu..
Maaf, jika
aku kurang memperhatikanmu..
Bukankah aku sudah memberitahukan alasannya
kepadamu?
Tapi..aku
maklum jika Kara tetap tidak mengerti..
Namun,
apapun yang terjadi, kau tetaplah Sahabatku..
Yang
menyayangimu,
Riri
Bibirku memulaskan sebuah senyuman. Astaga.... Riri, aku
begitu merindukannya.
Semenjak kami sekeluarga pindah keluar kota,aku sudah
lama tidak menghubunginya. Padahal,sebelum kepindahanku,aku selalu berjanji
untuk terus menghubunginya. Pada awalnya sih,aku memang selalu berhubungan
dengannya. Namun, karena sebuah permasalahan kecil, yang menurutku tidak pantas
untuk dipdrmasalahkan, kami berdua lost
contact.
Aku, dengan segala keangkuhan dan harga diriku, enggan
menghubunginya, enggan meminta maaf padanya, toh bukan aku yang salah, pikirku.
Namun,seiring waktu berjalan, aku menyadari, begitu bodohnya diriku..
Hallllooo Karaa..kamu sudah dewasa sekarang,berhentilah
bersikap seperti anak kecil.
Aku mengambil hapeku, mencari satu nama di kontakku yang
sudah berbulan-bulan tidak kuhubungi, tidak kudengar suaranya. Ah, lagi-lagi
aku tersenyum, lihatlah kuberi nama dia MY RIRI, haha, begitu aku
menyayanginya.
Tanpa ragu aku memencet tombol telefon berwarna hijau,namun,
belum sempat nada sambung terdengar aku segera mematikannya.
“TIDAK !!!” aku menutup kembali hapeku.
Dia saja tidak
pernah menghubungiku. Haah. Dia hanya pintar berkata-kata. Dia bilang
menyayangiku,mencintaiku,haah.. Bullshit. Kembali, ego menguasai pikiranku. Aku
meremas surat darinya dan karena tidak ada tempat sampah disekitar tempatku
duduk,terpaksalah aku memasukkannya kedalam ranselku.
Ahh... entahlah,aku kecewa, pada Riri pun pada diriku
sendiri.
Aku memejamkan kedua mataku. Angin dingin yang menimpa
wajahku semakin membesarkan hasratku untuk tidur sejenak.
“ Jagoo tidur..” sebuah suara baritone yang sangat
kukenal membuatku membuka kembali mataku yang telah tertutup. Omooooo~~
Kak Andrew...Astaga
!!! Aduh, what should I do then?..
Kak Andrew.Hah, sebuah nama yang selalu bisa membuatku
tersenyum.
“Hehehehe, mau nyoba juga kak? Tidur disini asik banget,
sini kak ,sini “ aishh…entah dapat keberanian darimana diriku ini, hingga
berani menyuruhnya duduk disampingku.
Dia menghampiriku sambil tersenyum,aishh..aku
bisa pingsan jika terus-terusan melihat senyum manisnya yang memamerkan
gigi-gigi kecil putih yang tersusun rapi.
“Kara kara, sampai kapan kebiasaan tidurmu itu
dipertahankan? Ah, tapi teruskanlah, kau unik Kara,aku suka“ tanpa kuduga kak Andrew
menepuk-nepuk kepalaku lembut..
Astaga..mimpikah aku ?
Pangeranku ini bilang jika dia ‘suka’ kepadaku. Walaupun
ini bisa dibilang biasa, tapi kata-kata Kak Andrew sukses membuatku terbang.
Hah, Kak Andrew, dialah alasanku melanjutkan kuliah di
kota ini,kota yang berada tepat di tengah-tengah provinsi Jawa Timur ini, dan
aku tak pernah menyangka bisa satu universitas dengannya, bahkan satu fakultas,
walaupun tidak satu program studi, namun, karena aku mengikuti kegiatan
Taekwondo di jampus, kami jadi dekat. Dia sudah sabuk hitam tingkat 4 sekarang.
Aku yang bisa dibilang lambat dalam mempraktekkan tendangan-tendangan dalam
taekwondo sering berguru dengannya, walau tidak gratis –Kak Andrew selalu
memintaku mentraktir waffle kesukaannya di depan GOR latihan kami- namun,tentu
saja aku bahagia. Hehe :D
Kami
memang dekat, setelah dia tahu jika kami dulunya satu SMA *poor me,he just know about that lately*
Aku hanya tersenyum. Ya, berada di dekatnya memang selalu
bisa membuatku tersenyum :)
Aku menoleh ke arah Kak Andrew,haha,dia memejamkan
matanya sekarang, ingin kutendang rasanya,mengingat beberapa saat yang lalu dia
menghinaku.
Lalu tak sengaja mataku menangkap sosok dua anak perempuan yang
sedang bercanda, aku melihat apa yang dipegang oleh salah satu anak tersebut,
sebuah majalah dengan cover Harry
Potter terbaru. Kembali ingatanku tentang Riri bermunculan. Hahhaha,kami berdua
memang Harry Potter Freak, aku jadi
ingat betapa ngototnya kami membolos di jam pelajaran demi nonton Harry Potter and The Half Blood Prince
di bioskop. Bahkan aku masih menyimpan PIN Harry Potter kami yang berwarna
coklat itu, aku membawanya kesini, kekota ini, demi sebuah memori indah yang
terangkum di PIN itu. Huwaaa.. Aku menahan airmataku agar tidak keluar, aku
malu, ada Kak Andrew (>///<).
Kembali aku menoleh kearah Kak Andrew, dan tidaaaak !!!
Dia memandangiku dengan tatapan aneh ! Astaga sejak kapan si manusia waffle
gratisan itu membuka dua mata indahnya.
“ Something bad happened huh? “ dia
menatapku. Aishh~~ His eyes look so pure
!!
“
Engg..hehehe, nggak kok, “ aku mengalihkan pandanganku, sungguh aku tidak bisa
bohong kepada malaikatku ini.
“ . . . . . “ aku bingung, kenapa Kak Andrew hanya diam. Aku
menoleh padanya.
“Kok kakak diem aja sih? “ aku merengut. Dia tersenyum
jahil.
“
Lah,tadi katanya nggak..yaudah, berarti nggak ada apa-apa, I believe in you little Karaaa. . . .”
“Uuuh,
itu namanya nggak perhatian” entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Padahal, apa
hak ku untuk kesal? Dia bukanlah siapa-siapaku.
“ Siapa
juga yang nyuruh bohong..yee” Kak Andrew menjulurkan lidahnya kepadaku, aaaa, He’s so cute and sometimes he acts rather
childishly. That’s why I like him.
He’s so adorable.
Aku hanya
mengerucutkan kedua bibirku, pura-pura ngambeek.
“Ciee,
ngambek nii, OK OK, would you please tell
me what problem that is bother you Karaa ? “ dia membenarkan posisi
duduknya dan menatapku.
“
huuu..tau yang anak Sastra Inggris, ngomongnya Inggrrriiiiisss mulu,” sindirku.
Dia hanya tersenyum lalu mengacak-acak rambutku.
“ I have a problem, with my lovely best
friend. . . “ aku menarik nafas lalu melanjutkan,
“ Aku gak tau kak, masalah sebenarnya diantara kita itu
apa, tapi aku ngerasa ada jurang yang lebar banget di antara kita, dan,
dan..semua itu diperparah dengan sifat aku yang gengsian, tertutup, childish.. “
“Dan,aku benci jika harus berurusan dengannya, aku selalu
merasa dia yang salah, dia yang harusnya minta maaf ke aku, tapi, dia seakan
nggak punya dosa ke aku, bahkan sekarang dia sibuk dengan dunianya..aku.. aku..
aku cuma ngerasa tersisihkan Kak, ..” aku berusaha mati-matian menahan
airmataku agar tidak jatuh.
“ Hanya
itu ? “ Kak Andrew buka suara. Aku
menatapnya dengan pandangan “berani sekali kau bilang hanya itu ?”.
Dia kembali tertawa dan mengacak rambutku, lagi. Kali ini
aku cepat-cepat menyingkirkan tangan besarnya itu, untuk pertama kalinya aku
merasa kesal saat dia mengacak rambutku.
“Karaa, pikirkan ini.. Ketika kamu menyebutnya sebagai “Sahabat”
maka ada konsekuensi yang harus kamu tanggung.. Kamu harus bisa belajar apa itu
mengerti, apa itu memahami, apa itu berbagi, apa itu memaafkan, apa itu
mencintai.. Semua itu terangkum dalam persahabatan, bahkan, suatu saat kamu
juga harus belajar untuk menerima dan tersakiti.. Karena seperti yang aku
katakan tadi, persahabatan itu merangkum segala hal.. Tidak mudah untuk mencari
seorang sahabat Kara, karena persahabatan itu suatu kata yang penuh makna,
tidak hanya untuk mencintai atupun untuk bahagiaa.. Tapi juga untuk menderita,
juga untuk airmata, juga untuk rasa marah, semuanya... Dan, jangan sampai kamu
kehilangan sahabat hanya karena sebuah permasalahan yang akarnya tidak jelas.
Dan aku yakin, dia tidak mungkin tidak memikirkanmu, hanya kau saja yang tidak
tahu Kara, aku yakin itu. . .“ Aku hanya terdiam saat mendengar kata-kata Kak
Andrew. Aku tidak bisa menangis, haha, semua ini terlalu bodoh untuk ditangisi.
Aku tersenyum, lalu memandang Kak Andrew. Dia masih menatapku hangat.
“ Kenapa aku bisa sebodoh ini ya Kak, bodoooh…” Aku
tertawa, sungguh, semua ini ternyata hanya sebuah kebodohanku belaka.
Kak Andrew menjitakku pelan .
“ Terkadang untuk menemukan suatu kebenaran memang
diperlukan sebuah kebodohan Little Karaa…”
Aku kembali tertawa, semua terasa ringan sekarang.
“Berjanjilah kau akan menghubunginya secepatnya..” Kak
Andrew mengingatkanku. Aku mengangguk. Samar-samar aku mendengar suara
adzan. It’s Dzuhur already,I’ll call her
after praying, aku tersentak, aku teringat.... Aku menoleh ke arah Kak
Andrew. Rambut cepaknya sedikit tertiup angin, aku beralih kearah lehernya. Tidak..
Aku bisa melihat kalung dengan lambang salib itu
tergantung di sana. Kalung yang sama semenjak SMA dulu.
Hatiku kembali berkabung...
Tak bolehkah aku sekedar mencintainya tanpa melihat
kepercayaannya..
Aku berdiri, bergegas untuk pergi.
“ Kak, makasih banyak untuk semuanya, umm… Besok, aku
traktir wafflenya double deh ! “ aku berusaha bersikap seceria mungkin,
menutupi sedihnya hatiku.
Dia tersenyum, huaaa.. senyum yang hanya bisa kukagumi,
tidak kumiliki.
“ Where will you go? Buru buru amat..”
sambungnya.
“It’s time to pray” ujarku. Dia kembali
tersenyum, senyum yang semakin menyakitiku.
“ Aaa. .
Oke oke… See you little Kara, thanks
udah ngasi tempat tidur yang nyaman” dia merebahkan tubuhnya dan melambaikan
tangannya. Aku membalas lambaian tangannya dan berbalik pergi.
Ya Allah,
maafkanlah hamba yang tidak bisa menahan semua perasaan ini. Aku pun tau kata-kata apa yang akan kuucapkan saat Riri
mengangkat telefonku nantii..
RIRIIII
AKU CINTA KAK ANDREEEW !!!! \(>o<)/
***END***
LOL... an old post on Facebook.
well, this is too much.. I like it tho xD
This was posted when I was still an ELF, and ELFs must have known who Andrew was, rite? lol XDDD
This was posted when I was still an ELF, and ELFs must have known who Andrew was, rite? lol XDDD
--Tikaa
No comments:
Post a Comment