Wednesday, February 8, 2012
Can you smile?
Aku berjalan menyusuri koridor itu.
Dinding dinginnya yang berwarna cream itu tidak dibiarkan kesepian, puluhan lukisan tergantung disana, memanjakan mata para jiwa-jiwa lelah yang mondar mandir dengan urusan yang seakan-akan tiada habisnya di dalam gedung tua itu.
Aku menyusuri lukisan-lukisan itu satu per satu.
Berharap menemukan lukisan yang kau buat.
Berharap bisa melihat hasil karya tangan kecilmu itu.
Ah,lihat, aku menemukannya.
Lukisan itu, dengan inisial namamu diatasnya.
Lucu.
Mentah.
Aku membayangkan wajahmu ketika melukis 2 lukisan itu, wajah seriusmu, yang selalu membuatmu terlihat lebih tua dari usiamu yang sebenarnya.
Aku tertawa.
Wajah lucumu, yang selalu membuatku ingin melindungimu.
Aku larut dalam anganku.
Larut oleh lukisanmu.
Yang bahkan tak seindah tawa ceriamu.
Yang bahkan tak seindah rengekan manjamu.
Larut sepenuhnya, walau aku tak tahu, apa maksud lukisanmu itu.
Hingga aku tak sadar, kau ada dibelakangku.
Menepuk pundakku pelan lantas tersenyum.
Senyum tulus yang bahkan mungkin aku harus berlatih ribuan tahun agar bisa tersenyum setulus itu.
" Kakak suka? "
Kau bertanya polos sembari menyentuh pinggiran bingkai lukisanmu itu.
Aku hanya mengangguk pelan. Aku malu jika harus tersenyum, senyumku tak seindah milikmu, yang dihiasi ketulusan.
" Kakak boleh ambil kalo kakak suka, bahkan aku bisa membuat lukisan lain yang kakak minta.."
Wajahmu berseri-seri, semakin membuatku ingin memelukmu.
Memilikimu sebagai milikku, bukan hanya angan.
Kau melepas lukisan itu dari dinding ruangan itu, mengusap-usap kaca bingkainya, dan menyodorkannya kepadaku dengan wajah bahagia.
" eh? "
Aku hanya bisa mengeluarkan kata itu, kata-kata bodoh yang tidak menyenangkan untuk didengar.
Aku tanpa ragu menerima lukisan itu, menggaruk kepalaku pelan, dan kembali menatap mata beningmu.
" Anggap saja sebagai ucapan terima kasih aku selama ini,Kak. Kakak sudah sangat baik membantu aku, aku.. aku.. "
Kau tidak bisa melanjutkan kata-katamu. Bahkan aku melihat ada butir-butir airmata di ujung matamu. Mengapa kau musti menangis? Aku bahkan bukan orang sebaik itu. Aku hanya diam. Tanpa bisa menenangkanmu, atau bahkan mengucap terima kasih atas lukisan ini.
Kau menarik nafas panjang, mengusap matamu perlahan.
" Kak, aku sayang Kakak. "
Wajahmu bersemu merah, dan senyum itu, senyum penuh ketulusan itu kembali menghiasi wajah mungilmu.
Aku terhenyak.
Aku merasa wajahku panas.
Aku.. Aku..
Apa lagi yang harus kukatakan? Aku merasa hatiku meledak.
Aku tidak bisa berkata-kata.
Hanya bisa memandangmu.
Pilu.
Aku lupa.
Sekarang jam 2 pagi.
Tidak mungkin kamu memiliki senyum setulus itu untukku.
Mungkin.
Memang mungkin.
Dan hanya mungkin terjadi disaat seperti ini.
Di waktu seperti ini.
Sebelum subuh hari.
Saat aku terlelap dengan nyenyaknya.
Aku bahagia.
Dan semoga semua menjadi nyata
- - - -
Kaa
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment