Aku tak tahu mengapa airmata-ku tumpah.
Rindu Ibu atau rindu padamu.
Kau siapa?
Keterfanaan yang nyata tergambar di muka bumi ini, yang
juga sama, fana.
Untuk apa aku menunggu, menghabiskan detik detik
berhargaku.
Menunggumu muncul diantara kepala-kepala asing itu.
Menunggumu muncul dengan berlari lari karena terlambat, takut tertinggal
ilmu.
Menunggumu muncul sambil membawa senyuman lugu, ditambah rona wajah
norakmu, yang selalu menggangguku.
Aku sedang apa?
Duduk dalam semu.
Terjebak oleh waktu.
Aku tahu, aku menunggumu dalam keberadaan yang sangat
tidak nyata.
Menyambungkan segala imajinasi imajinasi indah yang bisa
dirangkai oleh otak menyedihkan milikku.
Lalu imajinasi itu melayang, menari, dan membawaku ke
dalam ketidakmungkinan yang semakin lama semakin absurd.
Keabsurdan yang menyenangkan.
Aku memang menyedihkan.
Hidupku tak pernah bisa jelas.
Tegas? Itu apa, aku tak pernah mengenalnya.
Selalu terombang ambing dalam dua atau lebih pemikiran
yang pada akhirnya sama sekali tak menguntungkan.
Omong kosong, aku hanya butuh pembuktian.
Lalu, ketika aku sudah tegak berdiri sendiri, aku kesal,
bayanganmu yang membawa wajah norak itu tetap saja datang.
Mau menjadi diriku, menjadi boneka orang lain-pun tetap
saja sama, kau muncul.
Lalu, haruskah aku tetap duduk dalam diam yang ramai ini?
Menantimu?
Haruskah?
:: Akupun mengenal lelah, lelah menunggumu. Pengecut
untuk bisa berkata “Binar binar yang berpendar gembira di mataku ini bukan
karena cahaya matahari yang menembus melalui pintu kaca itu, tapi karena kamu!“
Ah, what a cheesy me. Blame you! Hey, bahkan imajinasi terindah pun tak
bisa menandingi indahnya satu detik yang kulewati saat menatap wajahmu.
Hadirlah di hadapanku, aku rindu </3
150213 – Kaa
hhmmmmm
ReplyDeletewah ada mbak mbak komen! KABUR!
ReplyDelete