Egois.
Aku memang egois.
Cenderung mengikuti semua apa yang dikatakan oleh ego-ku.
Kau tak pernah tau kan? Betapa aku sangat ingin memendam
semua rasa yang membuncah dan menyakitkan itu?
Memendamnya dalam-dalam, tanpa
melakukan usaha apapun.
Membiarkannya terkubur, terlupakan, hingga akhirnya
hilang.
Namun, ego-ku berkata lain.
Aku ingin memandang senyum itu lebih dekat.
Aku ingin mendengar suaramu lebih lama, tak sekedar
sapaan “selamat pagi“ atau “Hai“.
Aku ingin tahu apa arti dibalik nama indahmu.
Lalu, apakah aku salah jika aku mengikuti ego-ku?
Apakah aku salah jika aku rela melakukan apapun demi
mendapatkan 2 jam yang sangat berarti itu?
Mengamati ukiran wajahmu dari dekat,
sembari mendengarkan untaian kata-kata yang tak henti kau lontarkan.
Kau tak tahu kan?
Betapa aku berharap waktu berhenti saat itu. Harapan
bodoh, ha.
Kau tak tahu kan?
Betapa kerasnya aku menahan hasrat untuk berteriak dan
memeluk sosokmu yang terlihat rapuh.
Susah payah aku mengendalikan nada suara
dan ekspresi wajahku.
Mungkin aku bisa mendapat penghargaan Aktris terbaik atas
akting briliantku saat itu.
Kau tak tahu kan?
Betapa aku berharap aku dilahirkan dengan bakat
menggambar yang luar biasa, agar kau bisa menatapku dengan mata yang
berbinar-binar, memohonku untuk mengajarimu bagaimana cara menggoreskan
kuas-kuas warna ke atas kertas dan menggabungkan warna tersebut menjadi
kesatuan yang indah.
Kau tak tahu kan?
Betapa aku tak hentinya mengecek jam tanganku, berharap
jarum pendeknya tak pernah berhenti di angka 1, oh, dengan otomatis aku jadi
membenci angka 1.
Jika ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan 2 jam
itu.
Aku akan lakukan.
Hanya 2 jam.
120 menit.
Kau tak tahu kan?
120 menit itu setara dengan senyumku sepanjang minggu.
Atau mungkin, sepanjang semester ini.
(entah diketik tanggal berapa)
02.05 a.m. negeri antah berantah, yang sering disebut Malang.
Yang sedang berbahagia, dengan senyum bodohnya yang
tertempel.
Ah, I’m still listening to Distance, for the 25th times
tonight.
-Kaa
No comments:
Post a Comment