Ahhh.. sebut saja aku author gagal ! BANGET gagalnya !
Gak bisa nepatin janji deadline awut awutan ceritanya pun gak jamin bagus dan sesuai harapan !
dan sekarang, aku cuma ngepost intronyaa !! *pasti itu yg diseberang sana sudah membara pengen nampol*
ini kisah udah kubikin sad ending, makanya aku post intronya dulu biar kmu siap :)
nikmatilaaaahh ...... *jeng jeng*
Musim gugur 2011
Sebuah mobil Audi berwarna putih berhenti tepat di parkiran yang ada di bawah bukit Ilgob . Seorang pria keluar dari dalam mobil. Dia mengencangkan jaket coklatnya. Musim gugur kali ini terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Pria tinggi itu menuju pintu belakang mobil dan membukanya. Seorang gadis kecil keluar dengan semangat.
“ Appa , Junho tiduurr ... “ gadis kecil itu menepuk nepuk roknya, membenarkan setiap bagian yang terlipat karena duduk selama satu jam lebih di dalam mobil, sembari menunjuk-nunjuk ke bagian dalam mobil. Tampak seorang bocah lelaki yang tertidur dengan lelapnya.
“ Apa perlu Jaehee bangunkan Junho, Appa? “ gadis kecil itu, Choi Jaehee, menatap Ayahnya itu dengan mata besarnya yang terlihat sendu. Pria itu tersenyum lalu berlutut dan mengusap kepala Jaehee lembut.
“ Tidak perlu sayang, biar Appa gendong saja Junho, dia terlalu lelah, bukankah tadi malam dia tidak tidur karena begitu merindukan Eomma? Nanti ketika kita sudah sampai di atas, baru kita bangunkan dia.. Dia pasti senang bisa bertemu dengan Eomma ..“ Dia memberikan Jaehee tatapan paling lembut yang bisa dia buat . Jaehee tersenyum manis dan mengacungkan ibu jarinya. Lelaki itu bersegera merengkuh Junho yang sedang tertidur ke dalam pelukannya, berhati-hati agar anaknya itu tidak terbangun. Setelah memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal di dalam mobil, dia segera pergi menuju ke bukit Ilgob. Dia memberikan satu tangannya untuk digandeng oleh Jaehee. Jaehee meraihnya dengan antusias.
Perjalanan menuju ke puncak bukit itu sunyi. Jaehee dan dia hanya diam, tanpa suara. Bingung, apa yang musti dikatakan. Diam sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana mereka berusaha menyembunyikan kerinduan yang terpendam. Hanya sesekali terdengar suara dengkuran Junho yang sedang tidur di gendongan ayahnya, juga batuk kecil Jaehee, yang sengaja dia buat, untuk mengisi diam yang menguasai. Angin semakin kencang bertiup. Dingin.
“ Jaehee juga kangen sama Eomma, sama seperti Junho .. “ tiba-tiba Jaehee bersuara. Dia menoleh ke arah anaknya itu. Jaehee, si sulung dari kembarnya itu memang susah ditebak. Selama ini Jaehee tidak pernah merengek seperti Junho, yang selalu menangis karena ingin bertemu dengan Ibunya. Jaehee lebih banyak diam dan tidak pernah menyusahkannya. Namun sekarang, Jaehee yang menunduk menahan airmatanya mungkin adalah hal yang paling tidak ingin dia lihat untuk saat ini. Jaehee dan Junho masih 4 tahun, tapi dia merasa Jaehee, putrinya itu sudah amat dewasa. Dewasa sebelum waktunya.
Dia mengenggam tangan Jaehee lebih erat.
“ Sebentar lagi kita bertemu Eomma sayang .. Appa juga merindukan Eomma, kita semua merindukannya, dan Appa yakin Eomma juga merindukan kita karena dia sayang kita semua.. “
“ Kalo Eomma sayang kita, kenapa Eomma pergi ?“ Jaehee masih menahan airmatanya. Badannya bergetar, Dia bisa merasakan itu dari genggaman tangan kecil Jaehee di tangannya.
Dia menghentikan langkahnya. Kembali berlutut dan masih menggendong Junho yang tertidur.
“ Jaehee sayang, tatap mata Appa .. “ Jaehee perlahan mengangkat kepalanya yang dia tundukkan sejak tadi, menatap mata Ayahnya itu dengan isak yang tertahan.
“ Eomma pergi karena suatu alasan, dia harus pergi, dan Jaehee juga Junho harus mengerti itu .. Dan, kita pasti akan bersama lagi nanti, Eomma hanya pergi untuk sementara , tidak lama, pada akhirnya, kita semua akan berkumpul kembali .. Jaehee, percayalah pada Appa ..” Dia mengusap pipi putrinya itu. Putri yang selalu dia banggakan itu. Kuat, tabah, jarang menangis, sama persis seperti Ibunya.
Jaehee tidak menjawab apapun, dia hanya mengangguk mantap dan kembali menggenggam tangan Ayahnya itu. Dia berdiri dan mereka kembali meneruskan perjalanan menuju puncak bukit itu.
“ Lihatlah mereka berdua begitu merindukanmu, apa yang harus kulakukan agar kau kembali Ji-ah yaa? “
Dia, Choi Siwon, membatin dalam hatinya, berkata seolah Ji-ah ada di sampingnya, disisinya. Ya, bukan hanya Jaehee dan Junho saja yang merindukan Ji-ah, dia juga, sangat.
Jika tak ada kedua anaknya itu, dia pasti sudah menangis terisak. Dia begitu mencintai istrinya itu. Kepergiannya yang tiba-tiba amat memukul batinnya.
“ Ji-ah yaa .. Bogoshipdaa .. “ ucapnya pelan.
ahhhh mianhaeee bukannya bermaksud nunda nunda lagi atau bagaimana nih, aku baru bisa ngepost intronya dulu, bacauseee... aku dapet ide baru buat endingnya, kamu mau yang happy ending kaaann...??
tunggu laahh...
mau marah? silahkan.. edisi revisi bakal lebih memuaskan..
hayo tebak itu Jiah kenapa.. hehehehe >>
*evil* *ditendang* *kabur* ..
see you next week !!! or paling cepet hari selasa !!
kali ini aku gak neko neko *gak percaya* *ditendang lagi*
byeeee
IYA AKU MAU HAPPY ENDING MAKASIH KAKAAAA BAGUS SEKALI XDb
ReplyDelete